Mengkaji Islam

  • Islam

Sejarah Lambang Bulan Sabit

Posted by mengkajiislam pada Maret 21, 2010

Untuk membahas topik ini kita harus membuka Injil Perjanjian Lama utk mengetahui apa kata tuhannya Yahudi. Mari kita mulai dengan membuka kitab Nevi’im (Nabi-Nabi) Y’shayahu atau Yesaya 14:12 yang berbunyi:

Wah, engkau sudah jatuh dari langit,
hai Hilal bin Sahar,
engkau sudah dipecahkan dan
jatuh ke bumi,
hai yang mengalahkan
bangsa-bangsa!

Di Alkitab Indonesia, nama Hilal bin Sahar ini disebut sebagai sang bintang Timur, putra Fajar. Dalam Alkitab bahasa Inggris disebut sebagai Lucifer. Hilal adalah kata Arab, Armaik, Ibrani yang berarti terang dan juga bulan sabit (crescent moon). Sedangkan Sahar berarti fajar atau bintang pagi. Dengan begitu, Hilal bin Sahar tidak lain adalah:

Berkas:Hilalor3.png

Silakan lihat keterangan tentang kata Ibrani hll (baca: Hilal) dari The Dictionary of Deities and Demons in the Bible, oleh Karel van der Toorn, Bob Becking, Pieter Willem van der Horst, terbit tahun 1999, Wm. B. Eerdmans Publishing, halaman 392.

Berkas:Hilalyl1.jpg

Terjemahan paragraf dalam kotak merah:

Ekspresi Ibrani hêlèl ben-sãhar berarti ‘Yang Bercahaya, putra fajar.’ Kata Ibrani hêlèl
berasal dari akar kata HLL, ‘menyinari’, dan berarti ‘Yang Bersinar Terang’, dan ini sudah jelas
merupakan julukan dari sang Bintang Pagi, yakni Venus.

Asal usul kata Ibrani hêlèl sama artinya dengan kata Ugaratik (Kanaan) hll yang digunakan
salam kalimat berikut: bnt hll snnt yang berarti: ‘putri2 dari Yang Cemerlang, menelan (atau
mungkin “Mereka yang Bercahaya’)’ dan juga bnt hll b’l gml yang berarti: putri2 dari Yang
Cemerlang, Sang
Dewa Bulan Sabit, digunakan dalam kata Kathîratu (Ug. ktrt) yang adalah dayang
dewi Nikkal (Dewi Kanaan).

Shahar juga muncul dalam mithologi Ugaritik/Kanaan sebagai satu dari pasangan dewa2 yakni Shahar dan Shalim, yang berarti ‘Fajar’ atau Bintang Pagi dan ‘Senja’. Tapi dalam bahasa Ibrani, Shahar juga berarti Bulan Sabit dan Hilal berarti bulan. Kata Shahar (bulan sabit) digunakan dlm Hakim2 8:21,26 dan juga Yesaya 3:18 –> ‘et- hasahroniym. Terjemahan bahasa Indonesianya adalah ‘bulan’ dan ini kurang tepat, karena seharusnya adalah ‘bulan sabit’ (crescent).

Juga dalam bahasa Arab, Hilal berarti Bulan Sabit. Juga jangan lupa bahwa al-Zahrah adalah nama Arab bagi Dewi Venus. Asal kata Zahrah ini adalah zhr yang berarti bercahaya, bersinar. Nama Al-Zahrah sudah jelas berhubungan dengan kata shr dan shahar.

ISRAEL KUNO DAN ISRAEL MODERN: SAMA-SAMA DIKELILINGI PARA PENYEMBAH DEWA BULAN

Rupanya Israel di jaman kuno, terutama jaman Raja Daud, dikelilingi oleh banyak sekali musuh. Semua nama musuh2 itu disebut Daud satu persatu (Mazmur 83: 7-11): Edom, orang Ismaeli, Moab, Hajri, Jebal, Ammon, Amalek, Filistin, Tsur, Syampun, Midian, Sisera.

Lihat peta Israel jaman kuno:

Berkas:Israelkunohq6.jpg

Sibuk banget tentunya Raja Daud dikepung kerajaan2 musuh yang haus darah orang Yahudi. Serupa keadaannya dengan saat ini di mana Israel juga dikepung negara2 Islam yang haus darah kafir Yahudi.

Negara-negara Muslim ini juga punya cita-cita yang sama seperti musuh-musuh Israel di jaman kuno:

Mazmur 83:5
Maka kata mereka itu: Marilah kita binasakan dia, supaya janganlah lagi ia suatu bangsa, dan
supaya jangan ada lagi peringatan akan nama Israel itu.

Yah, begitulah. Semua Muslim di seluruh dunia, seperti kaum pemuja dewa bulan sabit jaman dulu, benci luarbiasa pada orang Yahudi, umat pilihan YHWH, dan ingin sekali melihat negara Israel hancur lebur agar tidak ada lagi yang bisa mengingat nama tersebut. Simak sebentar peta Israel jaman kini :

Berkas:Modernisraelgl1.jpg

Masih ingat apa lambang negara-negara Muslim pembenci Yahudi itu ?

Berkas:Islam-flags.jpg

Menara Babel

Dan mari kita tinjau sekali lagi, SIAPAKAH TUHAN MUSLIM ITU?

Sudah disinggung pada permulaan artikel ttg Yesaya 14:12. Dialah si Hilal bin Sahar, sang Dewa Bulan yang telah lama muncul di bumi. Dia pertama kali muncul dengan nama Babel di kitab Kejadian 11. Di perikop tersebut dijelaskan bahwa orang-orang berkumpul di Babel menjadi satu bangsa dengan satu bahasa untuk mendirikan menara yang maha tinggi.

Tapi hal itu digagalkan oleh YHWH, Tuhan bangsa Israel, Tuhannya Abraham, Yakub dan Ishaq. YHWH ternyata tidak suka jika manusia hanya punya satu bahasa, satu bangsa, satu negara. Usaha manusia ini dikacaukanNya dengan membuat mereka berbicara dalam banyak bahasa, sehingga saling tidak mengerti satu sama lain.

Makanya sekarang manusia seluruh dunia punya banyak sekali bahasa2 yang berbeda-beda. Variasi bahasa dan keragaman itulah yang memang jelas disukai oleh Tuhan Abraham, Yakub dan Ishaq. Tapi hal ini sama sekali tidak disukai Hilal bin Sahar alias Dewa Babel. Dia ingin manusia satu bahasa, satu bangsa, satu ideologi yang menyembah dirinya saja. Sekarang lihatlah Islam. Semua yang Muslim HARUS mempelajari adalah : SATU bahasa Islam, yakni bahasa Arab. Sampai2 menghafal Qur’an pun HARUS pakai bahasa Arab, tidak peduli mengerti atau kagak isinya. Tidak hanya itu, Muslim pun HARUS menyerap kepercayaan, budaya Arab, ideologi Arab, orientasi Arab, kiblat Arab, politik Arab, tradisi Arab, dan lain2 yg serba Arab. Negara2 Islam seperti Mesir, Yordania, Irak, Turki, Libia, Palestina, dll menggunakan satu bahasa yang sama yakni bahasa Arab. Penyeragaman seperti ini jelas merupakan usaha menentang keinginan YHWH. NAH, siapakah yang berani menentang sang El Shaddai kalau bukan biang SYAITAN itu sendiri?

Nama BABEL pun muncul lagi kemudian dalam nama negara adikuasa Babilonia sekitar tahun 1700 SM. Kali ini si Babel benar-benar muncul dalam bentuk Dewa Bulan yang bernama Sin. Diperkirakan Raja Babilon yang pertama kali menyembah Dewa Bulan adalah Nabonidus (555-539 BC). Dia mendirikan kuil Dewa Bulan di Harran. Kalian tentunya pernah lihat gambar ini.:

Sejarah mengatakan bahwa Nabonidus pernah tinggal di oasis subur di Temâ, Arabia selama tujuh tahun. Tentunya saat itu pula dia menyebarkan kepercayaan menyembah Dewa Bulan di daerah Arabia. Taurat dan Tanakh beberapa kali menyebut anak2 perempuan Babilon. Yang dimaksud dengan anak2 perempuan Babilon itu adalah pecahan dari kepercayaan masyarakat Babilon.

Jadi penyembahan terhadap Dewa Bulan di Timur Tengah sudah berlangsung lama sekali sebelum jaman Islam. Konsep dan nama Dewanya bisa bermacam-macam, tapi yang disembah tetap sama yaitu Bulan di langit. Misalnya, dewa bulan di Simeria dan Babilon dikenal dengan nama Sin atau Nana. Nama dewa Bulan di Pantheon Minea adalah Wadd (Hitti, 2002, hal. 97–98 ). Nama dewa Bulan bagi masyarakat Sabean adalah Almaqah. Nama2 lain dari Allah adalah Ilu bagi orang2 Babylon dan Assyria, El bagi orang Kanaan, dan [[Ilah]] bagi orang Arab tengah (Walker, 2004, p. 420). Masyarakat Nabasia juga menyembah Allah, dan juga dua dewa lain yang lebih rendah derajatnya yakni [[ar-Rahman]] dan [[ar-Rahim]]. Baik ar-Rahman maupun ar-Rahim dipuja bersama sebagai lambang kehormatan dan kemuliaan. Herannya Qur’an juga menyebut kedua nama dewa Pagan ini, meskipun menganggap kedua nama ini milik Allah. Surat pertama Qur’an (Surat Fatihah) menyebutkan kedua nama itu. Juga Surat 19 (Sura Maryam) didominasi oleh nama-nama kedua dewa tersebut.

Dewa Bulan atau Allah Ta’ala

Di jaman pra-Islam, Dewa Bulan Hubal atau Allah Ta’ala adalah dewa tertinggi bagi masyarakat pagan Quraish. Allah Ta’ala versi Quraish beristri dan beranak Allat, Uzza dan Manat. Muhammad tidak suka akan konsep ini, karena dia dipengaruhi konsep satu tuhan dari agama2 Yahudi, Kristen, Hanif, Zoroastria, dll. Meskipun begitu, konsep satu tuhan yang dimengerti Muhammad sangat berbeda dengan konsep satu tuhan dalam agama Yudaisme dan Kristen. Keterangan tentang ini telah ditulis panjang lebar oleh Duladi.

Jika Dewa Bulan Quraish beranak beristri, maka Dewa Bulan punya Muhammad tidak suka beranak sebab tidak bisa/mau cari istri. Ingatlah Q 6:101. Jika dulu Dewa Bulan versi Quraish bertoleransi terhadap agama lain, Dewa Bulan versi Muhammad sangat anti agama lain. Rupanya si Hilal tidak suka dengan pandangan toleransi masyarakat Quraish terhadap agama lain, sehingga dia merasa perlu mengutus nabinya untuk bikin konsep agama Dewa Bulan baru yang lebih ganas, lebih memaksa, lebih keras terhadap umatnya sendiri, apalagi terhadap umat lain!!

Karena banyaknya nama2 Dewa Bulan di Jazirah Arabia, Muhammad perlu menambah gelar Dewa Bulan miliknya agar tidak tertukar dengan Dewa2 Bulan yang lain: Allah Subhanahu wa ta’ala (SWT).

Bukti-bukti Sejarah

Perlu diperhatikan bahwa lambang Islam selalu konsisten dengan nama dewanya, yakni Hilal bin Sahar, sang Bulan Sabit dan Bintang. Lambang Islam itu sudah lama dipakai sejak jaman Muhammad sampai detik ini. Ini bukti2nya:

Simbol bulan bintang di mata uang kuno Arab.

Lihat simbol-simbol bulan bintang di mata uang kuno Arab di jaman Arab Sassania, tahun 686M, beberapa puluh tahun saja setelah Muhammad wafat di tahun 632 M. Lambang bulan bintang itu terus bermunculan di berbagai uang logam Islam sampai detik ini.
Juga perhatikan bentuk-bentuk perhiasan dari jaman Fatimid di Mesir dan juga Syria di abad ke-11 M. Tidak salah lagi bahwa itu adalah bentuk bulan sabit, lambang dewa Islam.
http://www.metmuseum.org/toah/ho/07/nfe/hob_30.95.37.htm
http://www.metmuseum.org/toah/ho/07/wae/hod_1979.278.2ab.htm

Berkas:Bajuperanguw8.jpg
Baju perang prajurit Muslim di jaman Islam Persia. Helmnya jelas berbentuk lambang bulan sabit dan bintang, simbol Islam.

Berkas:Umayyadix0.jpg
Keping logam dari Kalifat Umayyah, tahun 760M. Jauh sebelum Islam menaklukkan Byzantium.

Berkas:Alazhargy4.jpg
Juga lihat dipucuk kubah dan menara madrasah yang menempel di mesjid Al-Azhar, Kairo, Mesir. Lambang bulan sabit ternyata sudah lama digunakan Muslim, jauh sebelum Muslim menjajah Byzantium.

Illustrasi gambar mesjid dengan menaranya yang bersimbol bentuk bulan sabit dan bintang, simbol khas Islam.

Contoh barang-barang kuno di atas itu jelas menunjukkan Islam memang berlambang bulan sabit dan bintang, jauh sebelum Islam menjajah Kekaisaran Kristen Byzantium. Para Muslim modern rupanya malu mengakui simbol agama mereka sama persis dengan simbol penyembah dewa Bulan, sehingga mereka mengarang cerita bahwa lambang bulan sabit dan bintang diambil dari simbol Byzantium tanpa bisa menunjukkan bukti autentik apapun. Hanya para penyembah dewa bulan saja yang memakai lambang bulan sabit sebagai simbol agamanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: